Upaya Mencegah Prilaku Tidak Sehat (Sek Bebas) di Kalangan Remaja

Dalam kurun waktu kurang dari satu dasawarsa terakhir, kenakalan remaja semakin menunjukkan trend yang amat memprihatinkan. Kenakalan remaja yang diberitakan dalam berbagai forum dan media dianggap semakin membahayakan. Berbagai macam kenakalan remaja yang ditunjukkan akhir-akhir ini seperti perkelahian secara perorangan atau kelompok, tawuran pelajar, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas pranikah kasusnya semakin menjamur.

Di antara berbagai macam kenakalan remaja, seks bebas selalu menjadi bahasan menarik dalam berbagai tulisan selain kasus narkoba dan tawuran pelajar. Dan sepertinya seks bebas telah menjadi trend tersendiri. Bahkan seks bebas di luar nikah yang dilakukan oleh remaja (pelajar dan mahasiswa) bisa dikatakan bukanlah suatu kenakalan lagi, melainkan sesuatu yang wajar dan telah menjadi kebiasaan.

Pergaulan seks bebas di kalangan remaja Indonesia saat ini memang sangatlah memprihatinkan. Berdasarkan beberapa data, di antaranya dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya, dan Bandung) pernah berhubungan seks. Hasil survei lain juga menyatakan, satu dari empat remaja Indonesia melakukan hubungan seksual pranikah dan membuktikan 62,7 persen remaja kehilangan perawan saat masih duduk di bangku SMP, dan bahkan 21,2 persen di antaranya berbuat ekstrim, yakni pernah melakukan aborsi. Aborsi dilakukan sebagai jalan keluar dari akibat dari perilaku seks bebas.

Lebih parahnya tentang seks bebas, beberapa penelitian menunjukkan bahwa tujuh dari dari sepuluh perempuan telah melakukan hubungan seksual sebelum berumur 20 tahun. Sementara satu dari enam pelajar perempuan aktif bergaul seks bebas. Paling sedikit mereka berganti pasangan dengan empat laki-laki yang berbeda-beda. Kenyataan tersebut menunjukkan betapa ironisnya kondisi remaja kita saat ini.

Seperti dikutip dari harian Republika yang memuat hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang dilakukan pada 2003 di lima kota, di antaranya Surabaya, Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta menyatakan bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah berhubungan seks dengan pacar mereka. Ironisnya, hubungan seks itu dilakukan di rumah sendiri, rumah tempat mereka berlindung.

Prilaku tidak sehat di kalangan remaja ini tidak saja menjamur di kota besar, namun sudah merambah di kota kecil, termasuk Kota Ponorogo. Berdasarkan hasil survei secara acak yang telah mereka lakukan selama enam bulan yang dilakukan Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Ponorogo, yang dimuat di Republika co.id ( edisi 18 Desember 2010) menyatakan bahwa jumlah remaja putri yang pernah melakukan hubungan pranikah atau seks bebas mencapai kisaran 80 persen.

Secara garis besar, penyebab maraknya prilaku remaja yang tidak sehat (seks bebas) sekarang ini antara lain; kurangnya kasih sayang orang tua yang akan menyebabkan anak/remaja mencari kesenangan di luar dan mereka akan bergaul bebas dengan siapa saja yang mereka inginkan dan terkadang mereka mencari teman yang tidak sebaya yang memungkinkan mereka akan terpengaruh dangan apa yang dilakukan orang dewasa.

Selain itu peran dari perkembangan teknologi yang memberikan efek positif dan negatif tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu dari kita merasa senang dengan kehadiran produk atau layanan yang lebih canggih dan praktis. Tidak terkecuali teknologi internet yang telah merobohkan batas dunia dan media televisi yang menyajikan hiburan, informasi serta berita aktual. Di era kehidupan dengan sistem komunikasi global, dengan kemudahan mengakses informasi baik melalui media cetak, TV, internet, komik, media ponsel, dan DVD bajakan yang berkeliaran di masyarakat, tentunya memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan kita, namun perkembangan iptek yang sangat baik dan penting bagi perkembangan ilmu pengetehuan dan informasi para remaja, namun saat ini remaja justru salah mempergunakan kecanggihan teknologi tersebut, dan mereka menyelewengkan fungsi teknologi yang sebenarnya. Bahkan tayangan televisi, media-media berbau porno( bahkan VCD dan DVD porno yang begitu mudah diperoleh hanya dengan Rp 5.000), semakin mendekatkan para remaja itu melakukan hubungan seks di luar nikah.

Dasar-dasar agama yang kurang juga menjadi pendorong terhadap maraknya kasus seks bebas. Hal ini terkadang tidak terlalu diperhatikan oleh orang tua yang sibuk dengan segala usaha dan kegiatan mereka dan juga oleh pihak sekolah terkadang kurang memperhatikan hal ini, karena jika remaja tidak mendapat pendidikan agama yang baik mereka akan jauh dari Tuhan dan pasti tingkah laku mereka akan sembarangan. Selain itu, tidak adanya media penyalur bakat dan hobi remaja juga menjadi faktor maraknya kasus seks bebas.

Jika permasalahan remaja yang ada di negari ini tidak dikurangi dan diselesaikan dengan cepat maka dapat menyebabkan hancurnya tatanan bangsa di masa depan.

Sebagai makhuk yang mempunyai sifat egoisme yang tinggi maka remaja mempunyai pribadi yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar dirinya akibat dari rasa keingintahuan yang sangat tinggi. Tanpa adanya bimbingan maka remaja ini dapat melakukan perilaku menyimpang seperti seks bebas. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan/penerangan yang benar mengenai kebutuhan pengetahuan tersebut pada remaja. Sehingga, mereka tidak mengambil langkah salah dan merugikan dirinya dikemudian hari. Mereka memerlukan penyuluhan dan bimbingan yang terarah melalui sekolah, media massa (koran, majalah, TV, pendidikan, ulama, dan orang tua).

Perhatian orang tua diharapkan dapat dilakukan seefektif mungkin dalam membina putra-putrinya. Situasi yang berkembang di masyarakat, tentang dampak pergaulan bebas dikalangan remaja sekarang ini menghadapkan masyarakat, terutama para pendidik kepada sebuah dilema yang kontroversial. Beberapa saran yang bisa disampaikan yaitu:

  1. Bagi orang tua hendaknya meningkatkan kewaspadaan dan bimbingannya kepada putra-putrinya, dengan melakukan komunikasi seefektif mungkin.
  2. Perlu adanya suasan keterbukaan antara,orang tua dan anak atau guru dan murid.
  3. Bersikapklah kritis terhadap anak.
  4. Pembinaan dari para alim ulama dan tokoh-tokoh masyarakat lebih ditingkatkan.
  5. Menambah kegiatan yang positif di luar jam sekolah, misalnya kegiatan olahraga, kesenian, koperasi, wiraswasta.
  6. Perlu dikembangkan model pembinaan remaja yang meliputi seks, PMS, KB dan kegiatan lain yang berhubungan dengan reproduksi sehat, informasi yang terarah baik secara formal maupun informal.
  7. Perlu adanya wadah untuk menampung permasalahan reproduksi remaja yang sesuai dengan kebutuhan remaja.
  8. Perlu adanya sikap tegas dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas

Bertolak dari fenomena yang memprihatinkan tentang seks bebas di kalangan remaja, penulis yakin dan optimis, masih banyak remaja yang mempunyai sikap dan prinsip yang kuat. Masiah banyak generasi-generasi emas yang dapat melanjutkan eksistensi dan membangun negeri ini. Masih banyak remaja yang yang tidak tenggelam dalam pusaran budaya seks bebas

Iklan

About hadi

gemini

Posted on 10 April 2011, in Catatan. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Naudzubillah … semoga tidak semakin parah. yakin masih punya iman dan bisa menjaga diri…

  2. astofirulloh hal adzim…..semoga dengan adanya kejadian yg sudah ada dan sudah terjadi dapat mengetuk hati anak muda zaman sekarang dan berfikir sebelum bertindak…

  3. ridzwan miftahul aji

    i like bacaan ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: