Metode Tertua Perhitungan nilai akar bilangan “Calandra Method” berasal dari Hindu

“Matematika memiliki kepanjangan dalam 2 versi. Pertama, Matematika merupakan kepanjangan dari MAkin TEkun MAkin TIdak KAbur, dan kedua adalah MAkin TEkun MAkin TIdak KAruan. Dua kepanjangan tersebut tentunya sangat berlawanan” Menurut Rohedi, apapun dalihnya para ahli matematika Indonesia pantas digelari Mandul Kreasi. Mari kita renung kembali, betapa krusialnya perhitungan nilai akar suatu bilangan, baik yang riil apalagi yang kompleks. Di Indonesia, pada sekolah apa dan di kelas berapa pelajaran itu diberikan? Pelajaran menghitung akar bilangan yang luar biasa penting itu ternyata diberikan di SD kelas 5. Dan celakanya Pak Guru dan Bu Guru nyapun umumnya tidak mahir untuk menghitungnya. Metode perhitungan akar pangkat bilangan hingga saat ini yang diakui dunia hanya tersedia untuk akar pangkat 2 yakni nilai akar, dan Pak Calandra seorang Hindustan India menemukannya pada Th.1491 bersamaan dengan masa masuknya Islam ke tanah Jawa. Lalu bagaimana dengan perhitungan akar bilangan komplek? juga tersedia, dan penemunya adalah Pak de Moivre seorang kristiani. Lalu dimana kiprah ahli matematika Muslim dari Indonesia. Sabar, mereka sekarang sedang sibuk mencari metode pembelajaran yang mudah untuk mensiarkan kedua metode produk nonmuslim itu kepada anak-anak Indonesia. Perhitungan nilai akar bilangan itu sengaja saya angkat untuk dijadikan titik awal kalau umat muslim memang berhasrat memajukan peradabannya. Ada celah yang masih dilakukan untuk mengembangkan metode baru, dan bukan sekedar mencarikan metode pembelajarannya yang efektif. Perhitungan akar bilangan riil yang diberikan pada anak-anak kita adalah melanggar Hak Azazi Anak untuk bermain. Contoh, bagaimana mereka diajari berhitung akar 676. Di bawah angka 6 yang memiliki akar adalah 4, nilai akarnya 2. Simpan angka 2 itu sebagai angka terdepan. Lalu kalikan angka dua itu dengan angka 2 (yang ini fatwa Pak Calandra) hasilnya 4. Setelah itu Pak Guru dan Bu Guru bilang 4 (berapa) kali (berapa) samadengan 276 (selisih 676 dan 400 karena 4 di sana adalah ratusan). Lalu taruhlah angka berapa itu dibelakang angka 2 terdepan tadi, sehingga akar 676 adalah 2(berapa). Tentu saja sang Guru dengan mudah menyebut angka berapa itu adalah 6, karena beliau sudah hafal 46×6=276. Jadi anak-anak akar 676 itu adalah 26, coba kalian cek lagi pastilah 26×26=676 bukan. Tapi bagaimana dengan murid-muridnya? Inilah yang saya katakan “melanggar hak azazi anak untuk bermain”. Karena secara naluri murid akan menghitungnya sepuluh kali variasi cara untuk mendapatkan 276 itu, mulai dari 4(0)x(0), 4(1)*(1), dst. Di sinilah keberuntungan Pak Calandra, karean kalau seorang Professor Indonesia yang Doktornya jebolan MIT diminta menghitung akar 677 beliau pasti bisa melakukannya, karena metode Calandra itu benar-benar mendunia. Tetapi kalau permintaan dilanjutkan dengan akar pangkat 3 dari 677 [baca 677^(1/3)] tadi, he he he…Insya Allah beliau dan semua rekan-rekannya yang tergabung dalam paguyuban Professor dan Doktor Indonesia tidak bakalan sanggup memenuhinya, kecuali mereka diperkenankan menggunakan kalkultor. Mengapa? ya karena hingga saat ini dunia tidak memiliki metode perhitungan akar pangkat 3 tersebut. Bahwa dengan menyertakan angka tauhid ke dalam matematika, semuanya menjadi beres. Dan tidak saja akar pangkat 2 dan tiga yang bisa dihitung langsung dengan mudah, melainkan “ia” bersifat general. Sumber http://rohedi.com

Iklan

About hadi

gemini

Posted on 3 Desember 2009, in Catatan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: