Lulus UN Bukan Jaminan Keberhasilan Proses Pembelajaran

Naiknya tingkat kelulusan Ujian Nasional (UN) tahun ini di Jawa Tengah (Jateng) bukan jaminan keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan selama ini.”Hal itu memang mencerminkan kenaikan tingkat prestasi, namun belum menunjukkan keberhasilan proses pendidikan secara keseluruhan,” kata Sekretaris Dewan Pendidikan Jateng, Prof. Ahmad Rofiq di Semarang, Senin (15/6). Menurut dia, kenaikan tingkat kelulusan UN baru mencerminkan kenaikan di tingkat intelektual atau kognitif siswa, namun belum menyangkut ranah psikomotorik dan afektif berupa tingkat emosional dan spiritual. “Sebab, pelaksanaan UN hanya mengujikan beberapa mata pelajaran (mapel) dan belum mengintegrasikan keseluruhan mapel, khususnya agama dan kewarganegaraan,” katanya. Tapi, kata dia, tingkat kelulusan UN justru sering dijadikan tolok ukur tingkat kesuksesan suatu proses pendidikan yang dijalankan. Akibatnya, menjelang penyelenggaraan UN, seluruh sekolah berlomba-lomba mengintensifkan kegiatan pembelajaran dengan mengadakan uji coba ujian (try out). “Bahkan, ada sekolah yang mengadakan ’try out’ sampai delapan kali,” katanya. Kemudian, lanjutnya, pihak sekolah juga menggelar mujahadah atau doa bersama demi kelancaran dan kelulusan UN agar mencapai seratus persen.

Padahal, menurut dia, penentu kelulusan yang ideal adalah pihak guru di satuan pendidikan masing-masing yang lebih memahami kondisi setiap siswanya. Ia menjelaskan, bukti bahwa tingkat kelulusan UN tidak cukup untuk dijadikan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan yang sedang dilakukan dapat dilihat pasca-pengumuman kelulusan UN.

“Para siswa ada yang merayakannya dengan mencorat-coret baju untuk meluapkan kebahagiaan karena telah lulus dan menurut beberapa pihak hal itu masih dianggap wajar,” katanya. Akan tetapi, kata dia, ada juga siswa yang justru meluapkan kegembiraan atas kelulusannya dengan kegiatan negatif, misalnya dengan mabuk-mabukan atau berkonvoi kendaraan secara ugal-ugalan di jalan raya. “Bahkan, beberapa pasang siswa terpaksa diamankan pihak berwajib karena berbuat tidak senonoh untuk merayakan kelulusan di objek wisata Pantai Alam Indah di Tegal, Sabtu (13/6) lalu,” katanya. Ia mengatakan, apabila hanya diukur dari faktor kelulusan UN, siswa tersebut memang pintar karena berhasil lulus, namun penilaian tersebut tentunya berubah saat siswa tersebut terbukti melakukan perbuatan yang negatif.

“Kalau seperti itu, apakah masih tepat apabila tolok ukur keberhasilan proses pendidikan hanya didasarkan pada naiknya tingkat kelulusan UN,” tegasnya.

Sumber : Kompas.com

Iklan

About hadi

gemini

Posted on 1 Desember 2009, in Pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: