Membangun Interaksi dan Komunikasi dalam Pembelajaran

Peranan guru dalam proses belajar–mengajar harus mampu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor anak. Dengan kata lain, dalam mengajar bidang studi apa pun guru harus berupaya mengembangkan pengetahuan, sikap dan nilai anak didik. Sebab ketiga aspek tersebut merupakan pembentukan kepribadian individu. Umumnya para siswa/peserta didik dewasa ini telah berusaha untuk belajar, namun demikian derajat atau kadar keaktifan dalam belajar belum maksimal. Kekurangaktifan siswa belajar secara efektif itu dapat dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut: 1. Hasil belajar siswa pada umumnya hanya sampai tingkat penguasaan pengetahuan, merupakan hasil belajar terendah. Para siswa umumnnya belajar dengan teknik menghafal tentang apa yang dapat dicatat dari penjelasan guru atau dari buku–buku. Apabila telah hafal, maka siswa merasa cukup. Pengertian belajar dengan tingkatan hasilnya sebagai berikut: Belajar adalah proses perubahan perilaku, yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, dan penilaian tentang pengetahuan, sikap, nilai, dan ketrampilan (Sudirman dkk., 1987 : 99). 2. Guru dalam mengajar kurang merangsang aktivitas siswa secara optimal. Apabila kita amati, media pendidikan yang digunakan guru dalam pengajaran, kiranya belum dimanfaatkan secara baik di samping belum tersedianya alat dan jenis madia secara lengkap serta keahlian yang kurang. Berbagai jenis sumber belum secara efektif digunakan guru dalam pengajaran, di samping belum memadai penyedian jenis–jenis sumber belajarnya yang relevan dan mutakhir serta terpilih sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Semua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan usaha untuk merangsang aktivitas belajar siswa (Nur Muhammad, 2005:16). Komunikasi dan interaksi dalam pembelajaran memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Model pembelajaran yang patut dipertimbangkan adalah pembelajaran yang lebih banyak menndorong terjadinya interaksi dan komunikasi peserta didik , dengan adanya interaksi dan komunikasi akan dapat memotivasi peserta didik menguasai materi pelajaran, diantaranya model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning / CL ), yaitu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan beranggotakan siswa-siswa yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Setiap anggota kelompok saling bekerja sama dalam mengerjakan tugas. Belajar dikatakan belum selesai jika ada anggota kelompok yang belum menguasai bahan pembelajaran. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil belajar,dalam hal ini guru diperlukan sebagai pengarahan dan pembimbing dalam proses pembelajaran.

Iklan

About hadi

gemini

Posted on 16 November 2009, in Pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: